Apakah Bangsa Turki Kasar dalam Bertutur?

Ada mata kuliah Pragmatik ketika kita memutuskan untuk kuliah di jurusan bahasa Indonesia. Mata kuliah ini akan mengajarkan kita untuk memahami makna dibalik tuturan. Artinya, kita diminta untuk lebih peka terhadap lawan bicara. Tidak hanya itu, kita juga disarankan untuk hadir penuh terhadap setiap pembicaraan agar kita bisa memahami makna sebenarnya dari si penutur. Selanjutnya jika kita berlaku sebagai penutur, maka seyogyanya kita menggunakan bahasa yang santun demi menjaga hubungan sosial dan menekan konflik yang mungkin akan terjadi. Tentu saja kesantunan tidak sebatas bahasa, ada nilai dari etika moral yang harus kita perhatikan.

Bisa dibilang, makul ini sedikit rumit karena secara tidak langsung kita harus memahami latar belakang mitra tutur agar dapat memahami setiap tuturannya secara utuh. Meski begitu, makul yang bahasan utamanya kesantunan dalam berbahasa ini menjadi salah satu makul favorit saya. Ilmunya memang sudah saya peroleh bertahun-tahun yang lalu, tapi sampai saat ini, saya masih menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika saya merantau dan tinggal di Turki.

Turki dan Indonesia memiliki latar belakang yang yang berbeda. Untuk itu, saya harus menilik latar sejarah, geografi, dan budaya negara Turki. Karena latar inilah yang memengaruhi karakter dan bahasa mereka. Ketika saya dapat memahami latar belakang mereka, maka saya bisa memahami makna dari apa yang mereka ungkapkan atau lakukan. Dengan pemahaman yang baik, mereka bisa menerima saya secara utuh tanpa merasa terancam. Bahkan jika saya menerapkan ilmu pragmatik dengan baik, saya bisa memenangkan hati bangsa Turki. Hal ini tentu sangat berguna bagi orang asing seperti saya, yang saat ini menetap di Turki.

Berbicara tentang kesantunan berbahasa orang Turki, menurut pengamatan saya, bangsa Turki adalah bangsa yang santun dalam bertutur. Mereka sangat selektif dalam memilih diksi ketika berbicara dengan orang lain. Bahkan saat berbicara, mereka begitu memperhatikan intonasi tay nada berbicara. Saya pernah menanyakan tentang hal ini kepada suami saya yang berkebangsaan Turki,
“Mengapa bangsa Turki sangat hati-hati dalam berbicara? Apakah kalian takut menyinggung atau menyakiti lawan berbicara?” tanya saya penasaran.

Suami saya berpikir sejenak, lantas menjawab,
“Iya, kami sangat berhati-hati ketika berbicara, terlebih kepada orang yang tidak terlalu akrab. Namun alasannya bukan karena kami takut menyinggung lawan biraca kami. Kami adalah bangsa yang memiliki harga diri tinggi. Maka alasan kami santun berbicara adalah demi menjaga wibawa atau harga diri lawan bicara karena kami juga tidak suka dan tidak ingin direndahkan. Ketika harga diri kami direndahkan, kami akan menyerang. Pernah ada suatu kejadian, manajer saya marah kepada bawahannya di depan orang lain. Setelah orang-orang pergi, orang Yang dimarahi datang ke ruangan manajer saya dan bilang ‘Kenapa Anda memarahi saya di depan orang lain? Jangan lagi memarahi saya di depan orang lain!’. Manajer saya pun memahaminya. Untuk itu, di Turki, budaya saling menghargai antara atasan dan bawahan sudah mendarah daging.”

Saya mengangguk paham, kemudian teringat dengan sejarah Turki Utsmani yang berjaya selama kurang 600 tahun: menguasai beberapa wilayah, menaklukkan konstatinopel, bahkan berhasil mengirim tentara dan memberi bantuan kepada Aceh yang jaraknya sangat jauh. Bertahun-tahun bangsa Turki berada di puncak kejayaan. Artinya, tingginya harga diri atau wibawa yang mereka miliki telah terbentuk sekian lama. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar kehati-hatian mereka ketika berbicara, baik dalam memilih diksi maupun menjaga intonasi berbicara.

Alasan lain yang membuat mereka santun dalam bertutur adalah bahasa Turki itu sendiri. Bahasa yang berakar dari bahasa Arab dan bahasa Persia ini menjadikan bahasa Turki sebagai bahasa yang romantis. Keharmonisan vokal atau kesesuaian rima dalam aturan bahasa Turki membuat bahasa ini layak dijuluki sebagai bahasanya para sastrawan. Maka ketika berbicara, bangsa Turki bagaikan penyair: santun dan emosional :).

22 thoughts on “Apakah Bangsa Turki Kasar dalam Bertutur?”

  1. woahh artikel ini menarik, karena menunjukkan bahwa kesantunan dalam berbahasa sangat dipengaruhi oleh budaya. Perbedaan cara berbicara tidak selalu berarti kasar, tetapi perlu dipahami melalui konteks dan latar belakang budaya penuturnya.

  2. Menarik sekali artikelnya, apalagi pembahasan tentang perbedaan budaya Indonesia dan Turki dalam berkomunikasi. Jadi lebih tahu bahwa cara berbicara dan kesantunan ternyata sangat dipengaruhi oleh budaya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *